Selasa, 02 Mei 2017

Overstay 1,5 Bulan, RIK Divonis Hukum Percobaan


Persidangan Warga Negara Indonesia atas nama Terdakwa berinisial RIK, kelahiran Waleri berusia 30 tahun  telah dilaksanakan pada hari Selasa   tanggal  2 Mei  2017 bertempat di Shatin  Court.

Terdakwa RIK pertama kali datang ke Hong Kong pada tahun 2010 dan bekerja sebagai domestic helper dimana yang bersangkutan telah berganti beberapa kali majikan dan terakhir bekerja dengan majikan yang berlokasi di daerah Hong Kong, namun hanya bekerja selama 1 tahun saja dikarenakan  majikannya telah memutus kontrak dengan Terdakwa RIK ;

Pada tanggal 20 Desember 2015 Terdakwa RIK setelah putus kontrak dengan majikannya, yang bersangkutan tidak juga mendapatkan majikan baru dan yang bersangkutan juga tidak meninggalkan Hong Kong   sampai dengan batas waktu ijin tinggal di Hong Kong yaitu tanggal 3 Januari 2016 habis sehingga yang bersangkutan akhirnya menjadi overstay selama 1,5 bulan.

Pada tanggal 22 Februari 2017  Terdakwa  RIK menyerahkan diri ke Kantor Imigrasi di Kowloon Bay sebab Terdakwa berkeinginan untuk pulang ke tanah air. Setelah  Terdakwa RIK diinterview, yang bersangkutan diizinkan untuk bail out dengan uang jaminan sebesar HKD 100  (seratus hongkong dollar) dan menunggu sampai dengan hari persidangannya.

Pada persidangan hari ini Terdakwa RIK mengakui perbuatanya bahwa dirinya telah melanggar peraturan Keimigrasian di Hong Kong yaitu telah overstay selama 1,5 bulan, sehingga Hakim kemudian memutuskan bahwa Terdakwa dinyatakan bersalah dan oleh karenanya yang bersangkutan dijatuhi  hukuman dengan pidana penjara selama 6  hari dengan masa percobaan selama 12 bulan.  Dengan vonis tersebut maka Terdakwa RIK   tidak perlu menjalani hukuman penjara namun dalam waktu 12 bulan Terdakwa RIK tidak diperbolehkan untuk melakukan pelanggaran atau berbuat kesalahan lagi. Apabila Terdakwa melakukan kesalahan / pelanggaran yang baru dalam waktu 12 bulan, maka Terdakwa harus menjalani hukuman penjara selama 6  hari  ditambah dengan hukuman yang baru atas pelanggaran yang telah dilakukannya tersebut.

Rabu, 26 April 2017

Setelah ditangkap karena Overstay, KD Mengajukan Paper

Persidangan Warga Negara Indonesia atas nama Terdakwa berinisial KD  (30 tahun asal Indramayu)  dengan nomor kasus  STCC 1252/17 telah dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 26 April  2017 bertempat di Shatin  Court.
Terdakwa KD  pertama kali datang ke Hdxong Kong pada tahun 2012 untuk bekerja sebagai domestic helper  hingga  tanggal 19 Maret 2017 dimana yang bersangkutan telah bekerja dengan beberapa  majikan di Hong Kong dan terakhir dengan majikan yang  berlokasi di daerah Sa Ying Pun.  Majikan yang terakhir ini telah memutuskan kontrak kerjanya dengan Terdakwa KD namun setelah yang bersangkutan  diputus kontraknya tersebut tidak juga meninggalkan Hong Kong hingga akhirnya overstay selama 6 hari  dan saat ini tinggal di Mong Kok bersama kekasihnya orang Hong Kong.
Pada tanggal 8 April  2017 Terdakwa KD  datang untuk menyerahkan diri ke Kantor Imigrasi di Kowloon Bay dan Terdakwa   KD diinterogasi oleh petugas Imigrasi kemudian Terdakwa KD  diizinkan bail out dengan uang jaminan sebesar HKD 100 (seratus hongkong dollar) sambil menunggu panggilan untuk menghadiri persidangannya.  
Pada persidangan hari ini, Terdakwa KD  mengakui kesalahannya bahwa dirinya telah melanggar peraturan Keimigrasian di Hong Kong,  kemudian karena  Terdakwa KD  telah mengajukan paper ke Imigrasi Hong Kong dan  permohonan papernya sedang dalam proses maka Jaksa Penuntut Umum membatalkan tuntutannya. Selanjutnya Hakim menyatakan bahwa meskipun tuntutannya telah dibatalkan namun bukan berarti Jaksa Penuntut Umum tidak akan menuntut lagi terhadap Terdakwa KD, hal ini tergantung dari hasil permohonan papernya yang bersangkutan dan Jaksa Penuntut Umum juga masih berhak untuk menuntut kembali terhadap Terdakwa KD apabila proses papernya ditolak oleh Imigrasi Hong Kong.
Dengan keputusan tersebut maka untuk sementara Terdakwa KD dibebaskan dari penjara sambil menunggu hasil dari permohonan papernya. 

Senin, 24 April 2017

HAR Dituntut Di Pengadilan karena Adanya Perbedaan Data di Paspor

Persidangan WNI atas nama Terdakwa berinisial HAR (33 tahun asal Magetan) telah dilaksanakan pada hari Senin tanggal 24 April   2017 bertempat di Shatin Court.
Terdakwa HAR pertama kali datang ke Hong Kong pada tahun 2010 dan bekerja hanya selama 1 bulan  pada majikan yang berlokasi di South Horizon  kemudian di-terminate  oleh  majikan.
Pada saat Terdakwa HAR masih bekerja dengan majikannya tersebut, majikannya telah meminta kepada Terdakwa HAR  untuk menyerahkan dokumen milik Terdakwa yang ada di Indonesia karena dokumen milik Terdakwa disimpan oleh PT yang memberangkatkannya ke Hong Kong, dan saat itu Ibu dari Terdakwa HAR  hanya mengirimkan copy dari KARTU KELUARGA  yang masih dimilikinya dan disimpan di rumah Terdakwa HAR dimana copy Kartu Keluarga yang diterima Terdakwa HAR kemudian diserahkan kepada majikannya dan setelah beberapa hari kemudian Terdakwa HAR  di-terminate oleh majikannya.
Data yang terdapat pada Kartu Keluarga milik Terdakwa HAR tertera bahwa tahun kelahiran dari Terdakwa HAR adalah tahun 1986 sedangkan data kelahiran yang tertera di Paspor adalah tahun 1984.
Pada tahun 2014 Terdakwa HAR datang kembali ke Hong Kong untuk bekerja sebagai domestic helper dan bekerja pada majikan yang berlokasi di Yuen Long hingga finish kontrak selama 2 tahun.
Pada bulan April 2016  pada  saat Terdakwa HAR hendak memperpanjang kontrak kerjanya dengan majikan yang sama di Imigrasi Hong Kong yang bersangkutan diminta untuk datang ke Kantor Imigrasi Kowloon Bay dikarenakan terdapat perbedaan data pada dokumen Terdakwa HAR.
Terdakwa HAR  dituduh telah melakukan pelanggaran Keimigrasian di Hong Kong dengan memberikan informasi dan data yang tidak benar / palsu yang mana data yang ada di Paspor tidak sesuai dengan Kartu Keluarga Terdakwa HAR yang terdapat di Imigrasi Hong Kong.
Selama menjalani proses persidangan Terdakwa HAR  diizinkan bailout dengan uang jaminan sebesar HK$ 100 (seratus Hong Kong dollar)  dan saat ini Terdakwa ditampung oleh agennya di Yuen Long.
Adapun hasil persidangannya, Jaksa Penuntut Umum memohon agar Hakim bersedia untuk menunda kembali dengan alasan bahwa Jaksa Penuntut Umum akan berkoordinasi dengan pihak Imigrasi Hong Kong terkait dengan data yang berbeda yang tertera pada  paspor milik Terdakwa  HAR. Berkaitan dengan permohonan yang disampaikan oleh Jaksa Penuntut Umum tersebut, Hakim menyetujui dan memutuskan untuk menunda persidangan perkara atas nama Terdakwa HAR  sampai dengan tanggal 29 Mei 2017.

STY Disidangkan Karena Bekerja Di Luar Ketentuan Kontrak Kerja


Persidangan WNI atas nama Terdakwa berinisial STY (37 tahun asal Banjarnegara)  telah dilaksanakan pada hari  Senin  tanggal  24 April  2017  bertempat di Shatin Court.
Terdakwa STY pertama kali datang ke Hong Kong pada bulan November 2008, kemudian Terdakwa break kontrak dan meninggalkan Hong Kong menuju ke Cina untuk menunggu visa dari majikan baru yang diproses melalui sebuah Agen di daerah Yuen Long.
Terdakwa STY masuk ke rumah majikan baru pada bulan Juli 2009 dan bekerja sampai dengan saat ini hingga Terdakwa STY  ditangkap oleh petugas Imigrasi Hong Kong yang menyamar pada tanggal 20 September 2016 pada saat yang bersangkutan sedang mencuci piring di sebuah restaurant milik majikannya yang berlokasi di Yuen Long.
Terdakwa STY dituduh telah melakukan pelanggaran Keimigrasian di Hong Kong yaitu telah bekerja sebagai pencuci piring di restaurant milik majikannya dimana pada persidangan sebelumnya Terdakwa STY  telah mengakui kesalahannya dan bersedia untuk bekerja sama dengan pihak Labour Section dan Imigrasi Hong Kong guna memberikan kesaksian di persidangan berikutnya terkait dengan pelanggaran yang dilakukan oleh majikannya.
Hasil persidangan pada hari ini mengingat  persidangan perkara dari majikan Terdakwa STY baru akan dilaksanakan di Distric Court pada tanggal 27 dan 28 Agustus 2017, maka Hakim memutuskan perkara atas nama Terdakwa STY  ditunda sampai dengan tanggal 7 September 2017.

Rabu, 19 April 2017

Setelah Menjalani Beberapa Kali Persidangan, Akhirnya SNH Dibebaskan dari Segala Tuntutan


Persidangan Warga Negara Indonesia atas nama Terdakwa berinisial SNH (27 tahun asal Ketapang)  telah dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 19 April 2017 bertempat di Tuen Mun Court.
Terdakwa SNH pertama kali datang ke Hong Kong melalui PT. BLN Bali Pesona Abadi  pada bulan Desember 2016  dan bekerja sebagai domestic helper dengan majikan yang berlokasi di daerah Tuen Mun.
Selanjutnya pada tanggal 13 Februari 2017 Terdakwa SNH  dituduh telah mencuri 2 lembar uang @ HKD 500 milik majikannya sehingga yang bersangkutan kemudian di laporkan ke pihak kepolisian Hong Kong.
Terdakwa SNH kemudian ditangkap oleh polisi ditempat kediaman majikannya  pada hari yang sama dan dibawa ke kantor polisi Kowloon Bay  untuk diinterview namun Terdakwa SNH tidak mengakui bahwa dirinya telah mencuri sehingga yang bersangkutan lalu di bawa dan ditahan di penjara Tai Lam sambil  menunggu waktu persidangannya.
Pada persidangan hari ini, Terdakwa SNH tetap  tidak mengakui kesalahannya dan telah dihadirkan juga saksi-saksi yaitu majikan dan 2 (dua) orang petugas kepolisian yang menangkap. Namun setelah para saksi tersebut memberikan kesaksiannya dan dilakukan pemeriksaaan terhadap barang bukti serta Terdakwa SNH, ditemukan keraguan dalam pernyataan yang dikemukakan oleh saksi khususnya majikan sehingga Hakim tidak terlalu meyakini keterangan yang bersangkutan sehingga Hakim kemudian memutuskan bahwa Terdakwa SNH dinyatakan tidak bersalah dan dinyatakan bebas dari segala tuntutan. Barang bukti uang yang ditemukan dalam pakaian yang dikenakan oleh Terdakwa SNH akan dikembalikan kepada majikan namun barang bukti berupa foto yang diambil oleh polisi saat menemukan uang kertas lima ratusan sebanyak 2 lembar akan disimpan di Pengadilan Tuen Mun.

Selasa, 18 April 2017

ISN Ditangkap dan Disidangkan karena Overstay di Hong Kong


Persidangan Warga Negara Indonesia atas nama Terdakwa berinisial ISN  (32 tahun asal Lampung) telah dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 18 April 2017 bertempat di Shatin Court.
Terdakwa ISN pertama kali datang ke Hong Kong pada tahun 2010 dan bekerja sebagai domestic helper dimana yang bersangkutan telah berganti beberapa majikan dan terakhir bekerja dengan majikan yang berlokasi di Olympic Kowloon, namun hanya bekerja selama 1 tahun saja dikarenakan majikannya telah memutus kontrak dengan Terdakwa ISN.
Pada tanggal 7 Agustus 2015 Terdakwa ISN telah putus kontrak dengan majikannya dan sampai dengan batas waktu ijin tinggal di Hong Kong yang bersangkutan tidak juga mendapatkan majikan baru namun yang bersangkutan juga tidak meninggalkan Hong Kong tetapi tinggal serumah dengan kekasihnya di daerah Sham Shui Po hingga akhirnya menjadi overstay selama 1 tahun 7 bulan.
Pada tanggal 24  Maret 2017 Terdakwa  ISN menyerahkan diri ke Kantor Imigrasi di Kowloon Bay sebab Terdakwa berkeinginan untuk pulang ke tanah air. Setelah  Terdakwa ISN diinterview, yang bersangkutan diizinkan untuk bail out dengan uang jaminan sebesar HKD 500 (lima ratus hongkong dollar) dan menunggu sampai dengan hari persidangannya.
Pada persidangannya Terdakwa ISN mengakui perbuatanya bahwa dirinya telah melanggar peraturan Keimigrasian di Hong Kong yaitu telah overstay selama 1 tahun 7 bulan, sehingga Hakim kemudian memutuskan bahwa Terdakwa dinyatakan bersalah dan oleh karenanya yang bersangkutan dijatuhi  hukuman dengan pidana penjara selama 7  hari dengan masa percobaan selama 18 bulan.  Dengan vonis tersebut maka Terdakwa ISN tidak perlu menjalani hukuman penjara namun dalam waktu 18 bulan Terdakwa ISN tidak diperbolehkan untuk melakukan pelanggaran atau berbuat kesalahan lagi. Apabila Terdakwa melakukan kesalahan / pelanggaran yang baru dalam waktu 18 bulan, maka Terdakwa harus menjalani hukuman penjara selama 7 hari ditambah dengan hukuman yang baru atas pelanggaran yang telah dilakukannya tersebut.



Selasa, 11 April 2017

SNH Overstay 2 Bulan, Divonis Hukuman Percobaan


Persidangan Warga Negara Indonesia  atas nama Terdakwa berinisial SNH  berusia 26 tahun telah dilaksanakan pada hari Selasa  tanggal 11 April  2017 bertempat di  Shatin Court  1 lantai 3.
Terdakwa SNH  pertama kali datang ke Hong Kong pada bulan Mei tahun 2016  untuk bekerja sebagai domestic helper   dimana kontrak kerjanya   akan berakhir pada tanggal 27 Mei 2018, namun pada tanggal 12 Desember 2016 Terdakwa SNH telah diputus kontrak oleh majikannya.
Setelah diputus kontrak oleh majikannya Terdakwa SNH hanya diizinkan untuk berada di Hong Kong selama 2 minggu dan setelah itu harus meninggalkan Hong Kong, namun Terdakwa SNH masih berada di Hong Kong hingga akhirnya menjadi overstay selama 2 bulan 10 hari.
Pada tanggal 8 Maret 2017 saat terdakwa sedang berada diluar untuk membeli sesuatu Terdakwa SNH ditangkap polisi yang sedang berpatroli dan kemudian Terdakwa  SNH dibawa kekantor polisi setempat kemudian dibawa ke Mau Tau Kok guna di interview dan selanjutnya Terdakwa SNH di tahan dipenjara Tailam sampai menunggu hari persidangannya.
Hasil Persidangan hari ini, Terdakwa SNH  mengakui kesalahannya bahwa dirinya telah melanggar peraturan Keimigrasian di Hong Kong yaitu telah overstay selama 2 bulan 10 hari,  sehingga Hakim kemudian memutuskan bahwa Terdakwa SNH dinyatakan bersalah dan oleh karenanya yang bersangkutan dijatuhi  hukuman dengan pidana penjara selama 10 hari dengan masa percobaan selama 12 bulan.  Dengan vonis tersebut maka Terdakwa SNH  tidak perlu menjalani hukuman penjara namun dalam waktu 12 bulan  Terdakwa SNH    tidak diperbolehkan untuk melakukan pelanggaran atau berbuat kesalahan lagi. Apabila Terdakwa melakukan kesalahan / pelanggaran yang baru dalam waktu 12 bulan, maka Terdakwa harus menjalani hukuman penjara selama 10 hari  ditambah dengan hukuman yang baru atas pelanggaran yang telah dilakukannya tersebut.